Senin, 04 April 2011

Keutamaan Memakmurkan Masjid

Seandainya masjid-masjid dapat berbicara, tentunya yang terucap hanya keluhan dan gugatan atas perbuatan manusia terhadap dirinya. Dia dibangun beramai-ramai diiringi dengan berbagai pengorbanan dan penderitaan, namun ditinggal dan disia-siakan, setelah berdirinya. keindahannya hanya tinggal dalam kebisuan. Hening ditinggal para penghuninya. Masjid dalam keadaan yatim piatu, tiada mengasuh dan memakmurkannya, menyendiri dengan kesucian dan keagungannya. Hanya diisi para sepuh yang sudah renta sambil menunggu habis kontrak mereka di dunia ini. Yang lain, tertinggal jauh terkalahkan dan terlena oleh kemegahan berbagai bangunan dan kesibukan atas gemerlap duniawi. Padahal disinilah porosnya, perbaikan dan kedamaian manusia hanya bersumber dari dalamnya. Inilah jantung kehidupan mereka, namun mereka tidak merasa memilikinya, lalu bagaimanakah kehidupan, jika tanpa jantung di dalamnya?
Allah berfirman,
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah, adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat, dan tidak takut melainkan kepada Allah; maka mudah-mudahan mereka termasuk kedalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah : 19).
Ayat diatas dengan tegas menyatakan hubungan yang sangat erat antar keimanan dengan kemakmuran masjid, bahwa ciri utama orang yang memakmurkan masjid adalah beriman kepada Allah dan hari akhir. Berdasarkan ayat ini sebagian ulama menyatakan, bahwa orang-orang yang tidak memakmurkan masjid, masih diragukan lagi kesempurnaan iman mereka.
 “apabila kamu melihat seseorang pergi ke, pulang dari masjid, maka saksikanlah bahwa dia adalah beriman”. (HR.Tarmidzi dan Ibnu Majah)
Seandainya masalah memakmurkan masjid ini telah dikaitkan dengan kesempurnaan iman seseorang, maka lazim setip muslim bertanggung jawab atasnya. Namun, selain sebagai tuntutan, Allah swt. Senantiasa menawarkan berbagai keuntamaan dibalik tanggung jawab tersebut, sebagai balasan dan kasih sayang Allah terhadap umat ini. Bahkan Allah telah berjanji di dalam hadits Qudsi, bahwa:
                “Tujuh golongan akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari tiada naungan selain naungan-Nya (diantaranya ialah): “seorang laki-laki yang hatinya senantiasa terpaut kepada  masjid.” (H.R Bukhari dan Muslim).
Menurut Imam Nawawi mengenai hadis di atas dimaksudnya bukanlah orang yang terus menerus duduk di dalam masjid, tetapi melaksanakan shalat di dalam masjid. Kemudian apabila ia telah keluar dari masjid lalu melalukan aktifitasnya seperti bekerja, maka selalu rindu ingin kembali ke masjid lagi mendengarkan dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca dan pelajaran-pelajaran serta nasehat yang diberikan di masjid.
Orang-orang yang memakmurkan masjid adalah ahli Allah. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang meramaikan rumah-rumah (masjid-masjid) Allah, mereka adalah Ahli Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Thabrani).
Setiap kita harus memakmurkan masjid, setidaknya dimulai dengan shalat berjamaah di masjid. Selain itu, fungsi masjid mesti dikembangkan, yaitu dengan program-program yang di rancang sebaik mungkin. Baik itu program ibadah, pendidikan, sosial dan berbagai bidang lainnya.
“barang siapa yang pergi ke masjid hendak berjamaah, maka satu langkah menghapus kesalahan (dosa) dan satu langkah lagi dituliskan baginya suatu kebaikan, baik dikala pergi maupun di kala pulang”. (HR. Ahmad dan ibnu Hibban)
 Untuk mengembalikan kejayaan Islam dan umatnya, maka memakmurkan masjid sebagai pusat pembinaan dan pengembangan umat menjadi suatu yang sangat penting. Dan inilah sebenarnya titik tolak kita untuk mencapai kembali kejayaan Islam dan umatnya. Selayaknya, setiap aktivitas masjid dapat mengembalikan kaum Muslimin kepada semangat masjid. Bukan terhenti pada semangat Islam di kampus, kantor, kafe, mall, sekolah atau lainnya. Karena semangat ini adalah semu.
Seorang muslim yang tidak memiliki semangat masjid, akan sulit untuk berhubungan dengan masjid, walaupun masjid itu dekat. Sebaliknya, orang yang memiliki semangat masjid, maka dimanapun masjid berada, ia akan mendatanginya. Dan mereka yang tidak memiliki semangat masjid, akan hilang keseimbangan. Mereka merasa tidak menemukan habitat ke-Islaman semula. Disitulah kepentingan mengembangkan semangat masjid. Mengembalikan basis perjuangan umat ke masjid. Juga mengembalikan potensi umat secara lebih efektif. Tidak terpecah pada batasan kampus, partai, dan sebagainya. Semua berjalan senergis karena beranjak dari basis yang sama.
Jika seruan untuk memenuhi shaff masjid ditinggalkan, jika basis masyarakat muslim lewat masjid ditinggalkan, jika memakmurkan masjid menjadi priorintas perjuangan ditinggalkan, maka identitas umat hanya sebagai symbol. Dan masjid dengan mudah tecabut kemuliaannya. Seiring dengan keengganan umat untuk memakmurkannya. Maka maraklah maksiat di mana-mana. Karena potensi umat tidak tersalurkan dengan positif. Umat tidak saling mengenal satu sama lain. Pada saat segelintir umat Islam tenggelam dalam kemewahan, pada saat yang sama banyak umat yang kelaparan. Hilang sudah makna ta’awub (saling membantu) antar umat. Karena tidak berjajar dalam shaff yang sama. Padahal masjid merupakan wahana penyatu umat. Dimana segala perbedaan dileburkan. Bergerak dalam ruku’ dan sujud bersama. Tua-muda, kaya-miskin, semua mengaku sebagai hamba Allah, umat Nabi Saw. Dan pewaris Al-Qur’an. Hilang segala kesombongan jabatan dan perkauman. Yang ada hanyalah rasa tunduk dihadapan-Nya
Allah SWT berfirman dalam hadis Qudsi:
“Demi Kemuliaan dan Keagungan-Ku, sesungguhnya Aku bermaksud akan menurunkan siksaan kepada penduduk bumi, tetapi ketika aku melihat penghuninya sedang memakmurkan rumah-Ku (masjid), saling mengasihi sesamanya karena Aku, selalu melakukan istighfar di waktu sahur, aku palingkan siksaan itu dari mereka”.
“ apakah tidak perlu aku tunjukan kepada apa-apa yang Allah akan menghapus dengannya kesalahan-kesalahan dan akan mengangkatnya dengan kepada tingkatan-tingkatan? Sahabat menjawab: ”sebaiknya , ya Rasulullah”. Kemudian Rasulullah bersabda: “menyempurnakan wudhu di waktu banyak kemarahan (kesulitan dan lain-lain), banyak melangkahkan kaki ke masjid-masjid dan menunggui setelah shalat, maka itulah siap siaga, maka itulah siap siaga.” (HR. Malik dan Muslim)
“Barang siapa berangkat pergi ke masjid atau berangkat (di waktu lain), niscaya Allah menyediakan tempat baginya di surga setiap berangkat pagi atau berangkat waktu lain. (HR. Bukhari-Muslim).

•    Fadhilah memakmurkan masjid-masjid -Abdurrahman Ahmad As-Sirbony
•    Kumpuilan khutbah jum’at sepanjang masa – Achmad Sunarto 
•    Dzikir –DR.Miftah Faridl

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar